Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Desember 2008

yang kau pecahkan

sudah jelas
kau pecahkan gelas
meski berdalih tak sengaja
tersandung dari sudut meja
padahal masih ada seteguk
sisa kopi yang pasti nikmat saat direguk
yang hitam membisu menggumpal pekat
menambah racun bagi tubuh yang sekarat

pecahan kaca menggores dalam kata
terucap oleh mulut yang tak lagi menyapa
lalu kau pergi entah kemana
tinggalkan lantai yang mencoba bicara

semasa kau tak kembali
pecahan kaca tetap meringkuk di lantai sepi
namun di atasnya kini
aku menyeret langkah tanpa kendali
nikmati pedih dalam kebohongan pada diri sendiri
bertanya-tanya kapan kau akan kembali

rangkaian doa yang terpanjatkan
mengembalikan jiwaku dari lamunan
menyadarkan tubuh dalam luka
menapak pecahan kaca bercampur air mata

aku tak mampu lagi berlari
hanya duduk diam di sini
memandang waktu menangis seorang diri
mencabut pecahan kaca yang menembus kaki

semoga kau mengerti
dan tidak lagi kembali
semoga kau berkenan
agar aku dapat melupakan
sisa kopi kepahitan
yang terbuang karena gelasnya kaupecahkan

Jakarta, Desember 2008

Senin, 24 November 2008

TRAGEDI SEMANGGI

Hari itu sepuluh tahun yang lalu
Mahasiswa meregang disengat peluru
Saat menumpahi jalan menggandeng barisan
Menyeruak gas air mata meraba keadilan

Di mana Tuan saat itu
Sedang duduk beralas kekuasaan semu
Nikmati alunan senapan bertalu-talu
Apakah Tuan tak malu

Minggu, 26 Oktober 2008

GENERALISASI

orang batak
botak
pake batik
lagi batuk

Jakarta, 26 Oktober 2008
Setelah RUA Viaduct

Kamis, 19 Juni 2008

HARI INI KAU BAWA BUNGA*

hari ini kau bawa bunga
meski bukan hari ulang tahunku
atau hari istimewa
semalam untuk pertama kalinya kita bertengkar
dan kau melontarkan kata-kata menyakitkan
aku tahu kau menyesal
karena hari ini kau bawakan aku bunga

hari ini kau bawa bunga
meski bukan ulang tahun perkawinan
atau hari istimewa kita
semalam kau hempaskan aku ke dinding
dan mulai mencekikku
aku bangun dengan memar
dan rasa sakit sekujur tubuhku
aku tahu kau menyesal
karena hari ini kau bawakan aku bunga

hari ini kau bawa bunga
padahal bukan hari Ibu
atau hari istimewa lain
semalam kau memukul aku lagi
lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu
aku takut padamu
tetapi aku takut meningggalkanmu
aku tidak punya uang
lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
namun aku tahu kau menyesal
karena hari ini kau kembali bawakan aku bunga

hari ini kau bawa bunga
karena hari ini adalah hari istimewa
yaitu hari pemakamanku
kau menganiayaku sampai mati tadi malam
kalau saja aku punya cukup keberanian
dan kekuatan untuk meninggalkanmu
aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini...

* source unknown
digubah dari puisi asli berjudul sama yang digunakan sebagai kampanye stop kekerasan untuk perempuan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...