Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

WARUNG KOPI


Saya harus meralat artikel saya sebelumnya berjudul Televisi. Pada artikel itu saya katakan bahwa saya menonton televisi hanya untuk menyaksikan siaran langsung pertandingan sepakbola. Itupun hanya jika klub favorit saya Manchester United sedang berlaga. Sebenarnya adalah saya hanya menonton televisi untuk menyaksikan siaran langsung pertandingan sepakbola dan warung kopi. Warung Kopi, sebuah grup komedi.

TELEVISI

Satu hal yang saya cermati dari ayah saya adalah kegemarannya menonton siaran berita di televisi. Dari siaran berita stasiun televisi yang satu ke berita di stasiun televisi lainnya. Sekalipun itu berita yang sama, menurutnya selalu ada paling tidak satu sudut pandang yang berbeda antara berita di satu stasiun dengan stasiun lainnya. Mungkin itu sudut pengambilan gambar, komentar dari pakar yang berbeda, ataupun justru opini yang berbeda dari kebijakan redaksi suatu stasiun televisi.

Sabtu, 20 Agustus 2011

MENJADI PENONTON BIOSKOP YANG DEWASA (Bagian II)

Bagian satu baca di sini.

Selain hal-hal yang sudah kita bahas di atas, masih ada hal-hal lain yang mengganggu pemutaran film. Hal-hal itu adalah:

· Membawa anak kecil
Para orang tua maafkanlah saya. Saya belum pernah jadi orang tua namun menyadari betapa repotnya memiliki anak kecil. Mungkin Anda tidak dapat meninggalkannya saat Anda harus menonton di bioskop. Atau mungkin Anda berpikiran bahwa film yang sedang diputar dapat dikonsumsi anak-anak. Jika memang demikian, mohon bantuan Anda untuk mengajari anak tentang cara menjadi penonton bioskop yang dewasa. Anak kecil mungkin banyak bertanya. Jika demikian, lihat kembali poin nomor 2 tentang Dilarang Berbicara di artikel bagian pertama.



MENJADI PENONTON BIOSKOP YANG DEWASA (Bagian I)

Saya menulis artikel ini hampir menjelang tengah malam – selepas menonton di bioskop – sambil menikmati mi instan yang sebenarnya menurut dokter pasti akan merugikan kesehatan saya. Beban di hati meminta saya men-curhat-kan apa yang baru dan sudah beberapa kali saya alami saat berada di bioskop. Saya baru saja menonton film bagian kedua dari seorang jagoan kung fu yang merupakan seekor panda.

Benar, kawan. Saya baru saja menyaksikan Kung Fu Panda 2 (lebih lengkap lihat di sini) di salah satu bioskop yang terletak di dalam mal di Jalan Sudirman. Saat saya berangkat untuk membeli tiket, hati saya dipenuhi harapan bahwa film ini akan memberikan sebuah hiburan di tengah kebosanan saya mendengar berita tentang Nazarudin dan kemarahan saya mendengar berita tentang Walikota Bogor yang tidak kunjung membiarkan jemaat GKI Yasmin untuk beribadah di gerejanya sekalipun sudah ada keputusan Mahkamah Agung.

Jumat, 19 Agustus 2011

AMBIGRAM

Setelah membaca novel Angels and Demons karya Dan Brown, saya baru mengenal istilah ambigram. Di buku ini diceritakan tentang sebuah organisasi bernama Illuminati dengan simbol dalam bentuk ambigram. Simbol tersebut adalah kata illuminati itu sendiri. 


Lalu ada empat unsur yaitu Fire (api), Water (air), Earth (tanah/bumi) dan Air (udara). 


Keempat ambigram dari setiap kata unsur itulah yang kemudian menjadi permata illuminati.



Dan setelah mencari sumber-sumber tentang ambigram, penulis mulai mencoba membuat ambigram sendiri. Ini sekaligus menjawab tantangan kepada seorang kawan yaitu Deorc Regnboga yang telah berhasil membuat satu ambigram. Menurut penulis, ambigram sebenarnya adalah salah satu bentuk seni dari tipografi (bentuk huruf).

Minggu, 14 Agustus 2011

FH Atma Jaya, Ajarlah Mereka (juga) Keberanian Bersikap dan Berbuat (meski mungkin berbeda, bahkan mungkin salah).

Ini salah satu surat yang masuk ke e-mail penulis terkait dengan artikel di The Jakarta Post.

Malam sudah sudah agak larut sewaktu saya membaca artikel di the Jakarta Post hari ini. Students keep on writing against the odds* kata judulnya. Kupikir, mahasiswa universitas lain, bermasalah dengan rektoratnya, dan melawan.

Takjub saya baca, bagian berikutnya dari artikel tersebut: Members of the editorial staff of the Viaduct tabloid listen attentively to the explanation of their general manager, Lamgiat Siringoringo, on the planned publication of their bimonthly tabloid.

Kamis, 11 Agustus 2011

STUDENTS KEEP ON WRITING AGAINST THE ODD

The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 08/14/2005 11:33 AM | Life

A. Junaidi, The Jakarta Post, Jakarta

Members of the editorial staff of the Viaduct tabloid listen attentively to the explanation of their general manager, Lamgiat Siringoringo, on the planned publication of their bimonthly tabloid.

Sitting on the floor in Viaduct’s nine-square-meter office, Lamgiat asks his friends to be more active in raising funds for the publication of the 16-page tabloid, which is run by students of Atmajaya Catholic University’s law school.

“”We don’t want the bureaucracy of the university to intervene in the tabloid. So, we decided to rise funds from friends and alumnae. It has been almost a year (since we started looking for the funds),” Lamgiat, a student, said.

Senin, 08 Agustus 2011

LOST


Akhir-akhir ini saya sedang menonton sebuah drama televisi berjudul Lost tentang kecelakaan pesawat Boeing 815 yang membuat sejumlah orang terdampar di sebuah pulau di Lautan Pasifik. Cerita yang sangat menarik dan membuat saya miris membayangkan apakah tidak mungkin Indonesia memproduksi sebuah tontonan sekelas Lost.

Jalinan cerita yang dibangun oleh Lost adalah interaksi setiap individu – yang menjadi tokoh utama – tentang bagaimana mereka bereaksi dalam sebuah komunitas baru. Komunitas baru yang sebenarnya terbentuk atas ketidaksengajaan yang bahkan tidak diharapkan. Setiap tokoh adalah cerita itu sendiri. Masa lalu, masa kini dan masa depan mereka menjadi sebuah jalinan utuh yang dramatis.


Selasa, 18 Agustus 2009

LUKA

Tidak ada yang istimewa di pagi itu. Berangkat ke kantor seperti biasa, sampai di kantor lalu menyalakan komputer, dan terhenyak membaca berita utama yang terpampang di salah satu situs. Dua bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton. Sebuah peristiwa yang tidak biasa, di sebuah pagi yang seharusnya biasa.

Bukan dugaan motif pelaku yang membuat saya duduk terdiam beberapa saat. Bukan pula jumlah korban tewas dan luka-luka atau seberapa parah kerusakan yang ditimbulkannya. Bahkan bukan pula batalnya tim sepakbola Manchester United untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan tim sepakbola nasional.

Jumat, 17 Juli 2009

IDEM

Setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan, tiba waktunya untuk sedikit bersenang-senang di akhir pekan. Maka saya berinisiatif mengajak beberapa kawan sesama bujangan untuk sekedar kumpul-kumpul sembari makan malam. Mungkin kalau waktu masih panjang, dilanjutkan dengan segelas kopi sebagai kudapan.

Saya menduga akan menerima penolakan dari satu dua orang dengan pernyataan bahwa hari ini sedang malas atau ada urusan. Namun saya terkejut karena salah seorang kawan mengiyakan ajakan saya untuk berkumpul disertai dengan pernyataan bahwa ia tidak ingin makan karena sedang bosan. Saya tahu pernyataan itu hanya sebuah kalimat untuk mengundang tawa. Tapi tanpa sadar, saya membayangkan bagaimana rasanya mengalami kebosanan untuk makan.

ADIL

Takdir menunggu di halte. Duduk memegang map berisi riwayat hidup dan beberapa lembar sertifikat dari pelatihan dan kursus yang pernah diikutinya. Kemeja licin disetrika dan sepatu disemir rapi. Takdir akan mengikuti wawancara kerja, di sebuah perusahaan penyedia jasa pekerja.

Sudah enam bulan ia coba mendapatkan pekerjaan tetap. Mengirim ratusan surat lamaran lewat pos dan e-mail. Melalui berbagai tes kemampuan dari mulai hitungan sederhana hingga berbahasa. Mengikuti bermacam pemeriksaan kesehatan dari pemeriksaan darah hingga buta warna. Menyambangi satu perusahaan ke perusahaan lain. Menunggu tiadanya panggilan dan menerima penolakan demi penolakan.

Kamis, 02 Juli 2009

UNTUK KAWAN

Betapa dunia baru ini sudah tidak lagi memiliki batas. Tak mampu memisahkan kau dan aku dalam jarak dan waktu. Dalam balutan aroma hutan khatulistiwa dan teriknya siang. Di kebisingan polusi jalan dan menggigilnya malam.

Kau telah menyapaku pagi ini. Dalam dua kalimat sederhana. Sudah kubalas pula sapamu, diakhiri tiga tanda seru. Hariku pasti akan bersemangat, dimulai dengan sapamu yang bersahabat.

Beban kerja akan terlupa begitu saja. Begitu pula semua tumpukan kertas di atas meja. Tumpukan itu masalah biasa. Hanya membutuhkan goresan tanda tangan di setiap lembarnya. Walau kadang menjadi terbengkalai, tapi tak apa.

PIRING KOTOR

Pesta demokrasi hampir memasuki acara puncak. Dalam momen ini, Indonesia sekali lagi akan memilih siapakah orang yang pantas untuk menjadi pasangan pemimpin. Pemimpin yang akan membawa kita mundur untuk memperbaiki masa lalu dan membawa kita maju untuk menyongsong masa depan.

Prediksi pengamat telah dilontarkan. Lobi-lobi antar partai politik telah dilakukan. Pasangan pemimpin mulai dideklarasikan. Media massa dibingungkan dengan spekulasi berbagai kombinasi yang dianggap pantas untuk maju sebagai calon pasangan.

Senin, 11 Mei 2009

MEMILIH

Dalam pesta demokrasi tahun 2009 lalu, saya memutuskan untuk tidak berpartisipasi. Bukan karena anti kemeriahan dari pesta dan bukan pula karena apatis atau sok-sok sibuk, lalu meninggalkan hak sebagai warga negara. Saya hanya memilih untuk tidak memilih.

Berpartisipasi memilih dalam sebuah pesta demokrasi merupakan sebuah kebahagiaan, jika tidak dapat dikatakan sebagai karunia. Dengan ikut memilih, berarti ada sebuah usaha berperan serta dalam menentukan masa depan. Sebuah masa depan yang ditentukan dalam jangka waktu tertentu, dimana akan ditentukan lagi dalam pesta berikutnya.

Selasa, 09 September 2008

INSTAN

Zhuge Liang membuka telapak tangannya dan di sana tertulis kata api. Zhou Yu tersenyum seraya membuka telapak tangannya. Kata api yang tertulis di sana membuat Zhuge Liang balik tersenyum. Kedua penasehat militer tersebut mulai tertawa. Langit di Tebing Merah menjadi saksi betapa ampuhnya stategi mereka dan membuat kapal-kapal perang musuh habis terbakar.

Tiada yang menyangka bahwa persekutuan antara keduanya ternyata temporer. Hubungan diplomatik sesaat tersebut harus berakhir akibat ketakutan Zhou Yu atas kepandaian Zhuge Liang. Namun keretakan hubungan tersebut justru kelak dikenal sebagai penyeimbang kekuatan di antara kerajaan Wei, Wu dan Shu. Terciptanya keseimbangan antara Wei, Wu dan Shu inilah yang dikenal dengan sejarah Tiga Kerajaan.

Tiga Kerajaan adalah salah satu bagian sejarah Cina yang bertahan lama ke masa-masa selanjutnya. Nilai-nilai di dalamnya berkolaborasi dalam bentuk dongeng pengantar tidur, cerita pendek bahkan novel, komik, serta permainan komputer atau video game. Tiga Kerajaan menjadi ilustrasi dalam proses pengembangan manusia terutama bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya. Hal ini karena banyak momen sejarah dalam Tiga Kerajaan yang kemudian menjadi panduan apa yang boleh dan tidak boleh dalam berperilaku. Secara umum, cerita Tiga Kerajaan akan membawa pada kesimpulan bahwa tidak ada orang yang selalu baik atau selalu jahat.

Saya masih ingat bagaimana dulu guru sejarah mengajar di depan kelas. Siswa-siswa menjelajahi masa lalu dibayangi suara sang guru yang menjelaskan dengan logat Sumatera yang kental. Sayangnya materi yang diajarkan tidak lebih dari ringkasan sejarah itu sendiri. Akibatnya, saya hanya mengetahui nama peristiwa yang terjadi. Lalu sedikit tokoh penting yang terlibat di dalamnya serta kapan peristiwa itu dimulai dan berakhir. Tugas selanjutnya justru menghapalkannya karena hal-hal tadi akan menjelma sebagai soal ujian.

Tidak ada nilai krusial yang dapat dipetik dalam pelajaran sejarah. Kita tidak pernah tahu apa perasaan Bung Tomo saat berpidato dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Kita tidak mengerti apa perasaan Jenderal Sudirman saat mati-matian melawan Belanda di tengah rasa sakit yang mendera. Lalu apa pula perasaan orang yang mengangkat tandunya. Itu pun jelas perjuangan walau terlihat sekedar mengangkat tandu sang pejuang.

Belajar sejarah di bangku sekolah sekali lagi tidak lebih dari mempelajari ringkasan sejarah. Materi yang terangkum rapi menjelma dalam buku berjudul Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Tidak perlu heran saat generasi yang lahir melalui metode seperti ini adalah generasi yang instan. Generasi yang terpaku pada data mentah dan hasil tanpa mengerti bagaimana sisi-sisi kemanusiaan mengambil tempat dalam proses suatu peristiwa.

Keseluruhan sejarah Indonesia terutama pada saat peperangan melawan penjajah atau menuju proklamasi menjadi sebuah aksi-aksi heroik yang kemudian nyaris mustahil untuk dipahami. Ketiadaan dokumen yang lengkap menjadi kendala tambahan dalam mencoba menguak kepahlawanan.
Generasi instan pun mengabaikan pahlawan nasionalnya dan berpaling pada superhero atau pahlawan super. Tokoh rekaan yang lebih dekat secara emosional karena menawarkan dilema individu dalam balutan kostum yang menarik. Pahlawan yang berjuang di tengah bisnis raksasa penjualan pernak-pernik berlambang dirinya.

Sebagai gambaran, lihatlah betapa Batman sang Kesatria Malam menyedot orang untuk datang ke bioskop. Mereka ingin menyaksikan perseteruan Batman dan Joker dalam melahirkan penjahat baru yang pada mulanya adalah seorang jaksa yang bersih dari korupsi. Belum lagi munculnya Iron Man, Handcock dan serbuan sekuel pahlawan super lainnya yang akan membanjiri bioskop.

Indonesia pun membutuhkan pahlawan super. Pahlawan super berbumbu nasional sebagai substitusi fragmen sejarah yang tergerus perlahan dalam ambisi mengabadikan satu orde. Pahlawan super yang kelak lahir dari goresan tinta anak-anak muda yang tidak memahami betul sejarah bangsanya sendiri. Pahlawan yang akan mengulurkan tangan di tengah rasa putus asa menghadapi Pemilu tahun 2009.#

Kamis, 17 Juli 2008

LUPA

Tidak ada orang yang lebih beruntung selain Lucy Whitmore. Sebagai penderita Goldfield Syndrome, Lucy selalu melupakan segala hal yang terjadi hari ini akibat hilangnya daya ingat jangka pendek. Lucy menderita penyakit ini setelah tiga bulan koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Nyawanya tertolong namun otaknya rusak permanen. Kehidupan Lucy berubah menjadi hidup sehari.

Bagi Lucy, hidup bukanlah hidup yang penuh kejutan. Dengan segala daya upaya, ayah dan saudara laki-lakinya selalu menjaga Lucy agar tidak menyadari ada yang berubah dengan kesehariannya. Satu hari hidup Lucy telah dikemas sedemikian rupa dengan koran pagi yang sama, pertandingan olahraga yang terus diputar ulang, hingga hari ulang tahun sang ayah yang selalu dirayakan setiap hari. Beruntung Lucy bertemu Henry Roth, pemuda yang setia membuat rekaman video untuk mengingatkan Lucy terhadap masa-masa yang telah dilaluinya.

Saya lupa bahwa film berjudul 50 First Dates ini telah saya saksikan untuk ketiga kalinya. Namun saya tertegun kali ini saat menyadari bahwa ada persamaan yang begitu erat antara Lucy dan Indonesia. Mudah-mudahan saya salah, namun semua bukti mengarah pada indikasi bahwa bangsa ini pun mengalami kecenderungan menderita Goldfield Syndrome.

Beberapa waktu lalu misalnya, Indonesia lupa bahwa sebuah aliran kepercayaan telah ada dan hidup damai berdampingan sejak bertahun silam. Lupa kalau kekayaan alam kita sudah hampir habis namun manfaatnya belum dirasakan untuk sebesar-besar kemakmuran penduduknya. Lupa kalau pemuda-pemudi kita mampu bersaing di pentas internasional namun kekurangan kesempatan dan jaminan masa depannya. Masalah akhirnya hanya disamarkan dengan masalah baru.

Belum lagi ke depannya Indonesia mungkin akan lupa bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Artinya mereka harus dibina dan bukan dibinasakan. Namun justru karena naiknya harga BBM, maka program mengentaskan kemiskinan telah berhasil ’menghabisi’ lebih banyak lagi warga miskin di negara ini. Indonesia hampir lupa terhadap visinya, sementara para pemimpin mulai bingung dan lupa kemana harus melangkah.

Saya pun harus bertanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat yang pelupa ini. Contohnya saya hampir lupa kalau besok harus bangun pagi namun sekarang masih menonton Piala Eropa dan mendukung kesebelasan Belanda. Saya bahkan lupa kalau Belanda pernah menjajah kita bertahun-tahun lamanya. Namun saya tidak akan lupa bahwa bangsa ini masih memiliki harapan. Harapan yang bersandar di pundak saya dan anda. Reinkarnasi semangat kebangsaan yang harus dipikul dan dijinjing.

Syarat kepemimpinan ternyata bukan saja memiliki visi yang jelas, namun juga daya ingat yang kuat terhadap pelaksanaan visi tersebut. Hal mana belum kita temui bahkan dalam diri para calon pemimpin yang tergambar melalui iklan kampanye terselubung atas nama kesejahteraan rakyat. Mereka pun tidak dapat berbuat banyak selain sesekali makan nasi aking untuk memperlihatkan empati kepada masyarakat. Atau paling tidak mencoba optimis dengan janji-janji puitis nan sinis. Sehingga seharusnya kita sudah paham kenapa Indonesia tidak kunjung membaik. Jawabannya hanya satu, yaitu lupa. #

*nada minor, Juni 2008, REINKARNASI

Senin, 16 Juni 2008

BANGKIT

Menyaksikan videoklip garapan Rizaldi Siagian, pikiran saya melayang ke masa kecil. Lagu yang menceritakan Indonesia ini terasa hidup melalui pemandangan hutan Kalimantan. Hutan dengan berbagai binatang yang bermain di antara pohon-pohon yang berdiri tegar. Hutan hijau yang pernah dianggap sebagai paru-paru dunia dan merupakan kekayaan alam Indonesia. Serasa begitu nyata karena saya pernah berada langsung di hadapannya.

Penampilan videoklip tersebut dilanjutkan puluhan penyair yang membacakan puisi dengan menggebu-gebu. Lantunan bait kata bernafaskan semangat yang kental akan aroma perjuangan bangsa. Rentetan acara inilah yang menjadi pentas tepat sehari sebelum peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di kawasan Bulungan Jakarta. Seratus tahun yang lalu telah dianggap sebagai awal mula nusantara menyatakan kebangkitannya. Budi Oetomo berdiri sebagai konsekuensi perjuangan cendekiawan muda Indonesia. Kala itu, kemajuan pendidikan adalah satu tuntutan yang harus diwujudkan.

Ki Hajar Dewantara pun mencetuskan ’tiga dinding’ sebagai metode belajar. Metode yang divisualisasikan sebagai sebuah ruang kelas dengan satu dinding yang terbuka. Sistem yang menginginkan agar teori yang dipelajari di dalam ruang menjadi dekat dengan realita di luar. Sistem yang memaksa peserta didik mendengar suara masyarakat yang berdengung di luar kehormatan institusi pendidikan. Suara masyarakat yang galibnya merupakan suara Tuhan.

Suara-suara ini menginginkan perlakuan dan kesejahteraan yang lebih baik atas para buruh. Suara yang memekik tertahan dalam kegagalan 10 tahun reformasi penuh penyesalan, menyeruak dalam peringatan 100 tahun kebangkitan nasional. Suara kencang teriakan menuntut Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II agar dituntaskan. Suara yang dulu meruntuhkan penguasa zalim yang selama 30 tahun menjadi simbol suatu rezim. Suara yang membahana di Gelora Bung Karno, bersatu mendukung para "srikandi tepok bulu" Indonesia dalam final Piala Uber 2008.

Masih ada lagi suara tangis dan jeritan orang-orang saat dilarang memeluk keyakinan dan rumah ibadahnya dibakar. Suatu perseteruan menentukan kepercayaan yang paling benar. Mungkinkah juga itu suara Tuhan? Atau justru Tuhan disuarakan oleh mereka yang melakukan pembakaran dan pelarangan kepada keyakinan orang lain? Siapapun di antara keduanya yang menang, inilah antiklimaks sebuah negara yang mengakui kebhinekaan.

Namun kini yang terdengar hanya suara-suara khusyuk doa para siswa menjelang Ujian Nasional. Doa-doa yang dipanjatkan dalam ketakutan layaknya menghadapi bencana nasional. Saya pun hanya duduk termangu mendengar suara perut yang mulai keroncongan menanti suplai makanan. Dilema sebuah pemikiran dalam pertanyaan "Mau makan apa?" alih-alih sebagian besar bangsa ini bertanya "Apa yang mau dimakan?"

Nyanyian kebangkitan menjadi tidak lebih dari sekedar suara yang usang. Seremoni ortodoks dalam suara menjerit atas naiknya harga bahan bakar. Berbicara kebangkitan haruslah seperti yang dikatakan Dedy Mizwar sebagai sebuah rasa malu. Malu menjadi benalu dan minta melulu. Atau mungkin kebangkitan adalah pernyataan Taufik Ismail dalam puisi ’Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini’ yang bertanya, "Inikah yang namanya merdeka"#

*nada minor, Mei 2008, VOX POPULI VOX DEI

Sabtu, 17 Mei 2008

TELEPON GENGGAM

Setiap peserta telah menunjukkan penampilan terbaiknya malam ini. Sekarang tibalah waktu yang dinanti-nanti. Mereka berdiri bersebelahan dihujani sorot lampu dan ditemani kesunyian. Mereka menunggu. Berharap cemas sambil menduga-duga siapa di antara mereka yang tidak akan berdiri lagi di panggung itu. Mungkin sambil berdoa agar bukan dirinya yang harus pulang bercucuran air mata.

Inilah sekelumit gambaran kasar dari acara mencari idola yang masih marak di layar kaca. Dramatisasi adegan perjuangan calon idola yang pandai bernyanyi, menari, atau membuat orang tertawa. Melahirkan tokoh baru dengan iming-iming kesuksesan sebagai hadiah atas kemenangan. Pemenang yang ditentukan lewat pilihan masyarakat yang setia menonton dan menekan tombol telepon genggam.

Masyarakat terpana oleh kemilau lampu panggung yang dipancarkan. Seruan-seruan atas bencana alam dan global warming terpinggirkan. Nasi aking dan antrian atas langkanya minyak tanah terlupakan. Tertimbun dalam kampanye jalan pintas ketenaran dalam sebuah perlombaan mencari idola yang lebih memiliki kesan. Sebuah selubung bisnis miliaran rupiah perputaran uang.

Pencarian bakat-bakat baru dijalankan. Ratusan sampai ribuan orang mendaftar untuk ikut ambil peran. Mengejar fatamorgana pamor secara singkat bak keajaiban. Mengangkat rating satu jam acara televisi yang minim nilai pendidikan. Masih ada lagi masyarakat yang tidak segan mengirimkan ribuan sampai jutaan pesan singkat sebagai bentuk dukungan.

Fenomena ini bukan merupakan sebuah kesalahan atau kegagalan. Hubungan kausalitas yang tercipta adalah efek wajar dari sebuah harapan. Harapan masyarakat negara ini atas kehidupan yang lebih baik dan perekonomian yang mudah-mudahan membaik. Harapan yang disandarkan pada keringat sejumlah orang yang akan muncul menjadi idola baru. Harapan melalui sebuah telepon genggam sebagai pemicu.

Maka telepon genggam tidak lagi berfungsi menjadi sekedar alat komunikasi. Suatu kemajuan teknologi yang awalnya berfungsi untuk menyapa kerabat atau menjaga hubungan dengan relasi. Ia sudah menggantikan fungsi radio, kamera dan bahkan televisi.

Transformasi telepon genggam berjalan seiring dengan perang iklan tarif di baliho jalanan. Perang tarif yang tidak disia-siakan oleh binatang seperti monyet dan kambing untuk muncul menjadi bintang iklan. Sebagian masyarakat menanggapi hal ini secara negatif lewat surat pembaca di sebuah koran harian. Sementara sebagian lain dari masyarakat menyatakan murahnya tarif telepon sebagai sebuah kebohongan.

Satu dari sekian hal yang menarik saat membicarakan telepon genggam adalah bahwa telepon genggam sudah memiliki fungsi baru. Ia mampu merubah nasib seseorang. Ia mampu menentukan apakah seseorang akan menjadi pemenang atau pecundang. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti telepon genggam akan mampu melahirkan pemimpin baru.#

*nada minor, April 2008, FATAMORGANA

SETARA

Saya agak menghindar bila ada indikasi topik pembicaraan mulai mengarah pada perempuan. Bukan karena saya tidak punya pengalaman menarik dengan perempuan. Juga bukan pula karena saya pernah dikecewakan oleh perempuan.

Bahkan, bukan pula karena saya bosan dengan perempuan. Walaupun kecenderungan munculnya rasa bosan tersebut adalah wajar karena saya tumbuh besar sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga.

Tapi alasan utamanya adalah karena pandangan tentang perempuan itu sangat unik dan beragam. Mungkin perempuanlah satu-satunya penjelmaan bagian tubuh laki-laki yang paling sulit dipahami. Itupun kalau kita sungguh menerima keyakinan bahwa perempuan memang berasal dari tulang rusuk laki-laki.

Banyak pihak melekatkan penghargaan secara khusus pada sosok perempuan. Mulailah menghitung dengan hari ibu tanpa ada hari bapak. Jangan lupakan pula Kartini sebagai sosok fenomenal yang menjadi simbol kesetaraan perempuan dan laki-laki. Uniknya, poin kesetaraan inilah yang secara tidak sadar muncul sebagai subtopik perdebatan.

Kesetaraan ini pula yang kemudian coba dinetralisir, diperjuangkan oleh kaum perempuan ataupun kaum laki-laki yang berpandangan demikian. Pembenaran yang diberikan adalah bahwa di belakang sukses setiap orang, tidak bisa dipungkiri selalu ada peran seorang perempuan. Paling tidak orang sukses itu pasti lahir dari seorang ibu yang normalnya adalah perempuan.

Namun kesetaraan justru terabaikan di belahan lain negara ini. Masih ditemui kenyataan adanya kaum perempuan yang dipandang sebelah mata. Perbedaan anggapan yang tampak dalam kebanggaan jalur darah keturunan kaum laki-laki. Hal mana dari sudut pandang saya merupakan degradasi nilai manusia sebagai seorang manusia. Dalam konteks ini, perempuan bukanlah bagian dan hanya menjadi perhiasan sejarah saja.

Satu hal yang patut disyukuri adalah bahwa dapur, sumur dan kasur bukan lagi menjadi tiga unsur yang melebur dalam persepsi tentang perempuan. Suatu pandangan ironis karena bahkan tidak layak membaur dalam konsep sosok pembantu rumah tangga.

Inilah beberapa pandangan kontradiktif yang selalu mengiringi pemahaman saya tentang perempuan. Di satu sisi, hegemoni kaum adam adalah ego yang harus dimenangkan. Di lain pihak, sungguh sangatlah terlambat bila perempuan hanya sekedar bersaing dengan superioritas laki-laki.

Maka inilah alasan saya mengelak berbicara tentang perempuan, karena berbicara tentang perempuan bagi saya hanyalah salah satu sudut pandang dalam diskusi tentang kasta manusia dimana jenis kelamin menjadi batasnya.#

*nada minor, Februari 2008, PEREMPUAN

TEMPE

Perbincangan kami malam itu ditemani dua gelas kopi dan asap rokok yang mengebul. Pertemuan mendadak di salah satu café di jantung ibukota ini sungguh tidak diduga. Walaupun memang sedikit aneh bila bertemu secara tiba-tiba dengan orang yang dulu kita kenal dekat dan sudah lama terpisah. Setelah saling bertukar kabar dan cerita tentang keadaan teman-teman yang lain, obrolan kami beranjak kepada kehidupannya di luar negeri.

“Wah, di sana berbeda dengan di sini. Semuanya serba teratur. Apalagi masalah lalu lintas”, katanya. “Negara mereka memang lebih dulu merdeka, tapi seharusnya tidak menjadi tolak ukur. Kalau kita mau sih bisa. Sepertinya memang bangsa kita yang mental tempe”, tambahnya sambil menghirup kopi.

Saya tidak memberikan tanggapan. Namun, sambil menghirup kopi saya memikirkan pernyataan tersebut. Mental tempe adalah sebutan yang sudah lama muncul. Suatu istilah yang kerap digunakan untuk orang atau sekumpulan orang yang dianggap memiliki mental yang lemah. Mungkin dapat pula diartikan sebagai kepengecutan.

Jangan tanya pada saya kenapa disebut mental tempe dan bukan mental kerupuk. Sejauh ini saya belum menemukan jawaban akurat yang mampu menjelaskan mengapa kata tempe yang digunakan dalam istilah ini. Guru-guru Bahasa Indonesia pun dulu tidak pernah menerangkan kenapa.

Kalau dipikirkan lebih lanjut, kasihan sekali nasib tempe. Tanpa bisa mengajukan pembelaan, putusan sudah dijatuhkan. Tempe telah melekat dalam istilah kelemahan atau kepengecutan. Kontradiktif sekali dengan tempe dalam arti sesungguhnya yang sering digunakan sebagai lauk pelengkap nasi.

Padahal tempe yang berasal dari kedelai adalah makanan yang bergizi. Kedelai memiliki kualitas protein yang tinggi sehingga memperoleh julukan ‘gold from the soil’. Bahkan kedelai pun telah diolah sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi menjadi pengganti daging bagi mereka yang vegetarian. Oleh karena itu, tempe pun seharusnya mendapat kehormatan serupa dengan kedelai, karena tempe merupakan metamorfosis kedelai atas paksaan ragi.

Di tangan seorang koki handal, tempe adalah bahan masakan yang dapat diolah untuk menggugah nafsu makan. Sebut saja tempe goreng, tempe bacem, tempe mendoan, maupun sekedar sambal goreng tempe. Kesemuanya adalah cita rasa yang mendunia. Tidak perlu heran, berhembus kabar kalau tempe menjadi saksi bisu meja hijau karena sengketa perebutan hak paten pengolahannya.

Naiknya harga tempe di pasar internasonal telah membuat pengusaha tempe menjerit. Melonjaknya ongkos produksi yang menyebabkan naiknya harga tempe telah membuat pelahap tempe berjengit. Akibatnya, bangsa ini pun perlahan-lahan bukan lagi bangsa penikmat tempe. Bukan karena tidak suka, tapi tidak mampu membiayai tempe.

Maka dari itu sungguh tidak layak dan tidak tepat kalau bangsa ini disebut ber-‘mental tempe’. Tempe sudah tidak lagi menjadi citra diri nusantara. Apalagi direkatkan dalam tolak ukur mental bangsa. Tolak ukur mental sebuah bangsa yang mungkin akan kehilangan tempe.#

*nada minor, Januari 2008, METAMORFOSIS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...