Tuesday, August 18, 2009

LUKA

Tidak ada yang istimewa di pagi itu. Berangkat ke kantor seperti biasa, sampai di kantor lalu menyalakan komputer, dan terhenyak membaca berita utama yang terpampang di salah satu situs. Dua bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton. Sebuah peristiwa yang tidak biasa, di sebuah pagi yang seharusnya biasa.

Bukan dugaan motif pelaku yang membuat saya duduk terdiam beberapa saat. Bukan pula jumlah korban tewas dan luka-luka atau seberapa parah kerusakan yang ditimbulkannya. Bahkan bukan pula batalnya tim sepakbola Manchester United untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan tim sepakbola nasional.

Saya terpaku saat menyadari bahwa masa depan bangsa ini, dalam identitas ke-Indonesia-an yang mulai terlihat cerah, perlahan kembali redup menghitam. Lupakan iklan layanan masyarakat tentang Visit Indonesia Year atau Visit Jakarta. Tidak ada gunanya merias wajah pariwisata dalam usaha pencitraan mengajak orang datang, jika tidak mampu memberi kebutuhan yang paling mendasar yaitu rasa aman.

Sebuah surat elektronik tiba di pagi yang biasa itu. Tim nasional sepakbola Indonesia untuk pertama kalinya menunjukkan prestasi menggembirakan. Mereka menang melawan Manchester United. Kemenangan yang diraih lewat walk out tim lawan yang tidak berani datang kegelanggang pertandingan.

Surat elektronik itu dibuat dengan tujuan agar pembacanya tersenyum bahkan tertawa. Saat sebagian keluarga korban terisak pilu, jutaan lain mengumpat tindakan pelaku, dan sisanya kecewa karena telah membeli tiket pertandingan persahabatan namun urung menonton. Sebuah senyum sinis untuk kebanggaan atas noda hitam pembangunan.

Seperti layaknya pentas teatrikal, dua ledakan bom ini berhasil meraih perhatian dengan mengangkat tema ketidakmampuan suatu bangsa menjadi tuan rumah yang baik. Dalam kebiasaan isu media, peristiwa ini mungkin akan segera ditinggalkan penonton. Hilang oleh hasil penghitungan suara pemilu yang dilakukan KPU.

Tapi peristiwa ini tidak akan hilang bagi mereka yang menyatakan dirinya Indonesia. Dua ledakan bom ini tidak akan menghilang oleh isu media lain, sebagaimana berita penyiksaan TKI tersisih oleh Manohara. Ia akan tetap tinggal sebagai luka yang mengingatkan untuk tidak terlena. Sebuah luka yang dibuat oleh bangsa sendiri sementara sebagian orang belum pulih atas suka cita rangkaian pesta demokrasi.

Jika masa depan memang tercipta oleh masa kini, maka masa depan sudah jelas. Dua ledakan bom yang menjadi penanda garis awal harus membawa bangsa ini dalam perjalanan panjang kewaspadaan. Dimana tidak akan ada tempat bagi mereka yang menyebarkan teror dan ketakutan. Karena sekalipun mereka dapat membentuk masa depan, itu hanyalah puing-puing dan kehancuran.#

Jakarta, 23 Juli 2009
Buletin ARUS Edisi VI Agustus 2009

Friday, July 17, 2009

IDEM

Setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan, tiba waktunya untuk sedikit bersenang-senang di akhir pekan. Maka saya berinisiatif mengajak beberapa kawan sesama bujangan untuk sekedar kumpul-kumpul sembari makan malam. Mungkin kalau waktu masih panjang, dilanjutkan dengan segelas kopi sebagai kudapan.

Saya menduga akan menerima penolakan dari satu dua orang dengan pernyataan bahwa hari ini sedang malas atau ada urusan. Namun saya terkejut karena salah seorang kawan mengiyakan ajakan saya untuk berkumpul disertai dengan pernyataan bahwa ia tidak ingin makan karena sedang bosan. Saya tahu pernyataan itu hanya sebuah kalimat untuk mengundang tawa. Tapi tanpa sadar, saya membayangkan bagaimana rasanya mengalami kebosanan untuk makan.

Kegiatan yang didefinisikan sebagai ‘makan’ jelas merupakan sebuah kebutuhan. Kegiatan ini malah termasuk yang paling penting. Terlepas dari kuantitasnya yang berkurang akibat program diet atau menguruskan badan. Bahkan secara normal, dalam waktu-waktu tertentu tubuh akan mengeluarkan sinyal-sinyal yang diartikan sebagai lapar atau keharusan untuk makan.

Namun tidak salah jika kemudian kegiatan makan ini menjadi membosankan. Mungkin karena makan telah menjadi sekedar kebiasaan. Sebagaimana bernafas yang dilakukan tanpa sadar. Makan menjadi pengulangan rutin tindakan keseharian yang wajib dilakukan. Sebuah repetisi naluri kemanusiaan yang wajar.

Ia membentuk suatu ritual wajib yang kemudian dilakukan pada jangka waktu tertentu. Walaupun sedang tidak lapar, dengan alasan menjaga kesehatan, kegiatan makan tetap dilakukan. Sederhananya berarti paling tidak ada dua waktu yang berulang dalam setiap hari. Mungkin tiga jika dihitung dengan makan pagi.

Saya tidak menyatakan bahwa waktu-waktu tersebut terbuang percuma karena bagaimanapun juga saya termasuk pribadi yang menikmati kegiatan makan. Baik kualitas makanan itu sendiri maupun suasana yang mendukungnya. Tapi saya hanya mulai mencoba mengingat berapa banyak pengulangan selain makan dalam keseharian yang selalu saya lakukan.

Selayaknya membaca sebuah otobiografi, saya terkejut menyadari bahwa setengah dari tebal buku tentang keseharian saya itu akan memuat pengulangan. Tanpa sadar, setiap hari saya menjadi sebuah robot yang memprogram diri sendiri untuk melakukan kegiatan yang sama. Mungkin merasakan hal yang sama, bahkan memberikan reaksi yang sama juga atas perasaan tersebut.

Jika benar demikian, saya tidak ada bedanya dengan binatang. Berburu jika lapar, beristirahat jika lelah, bercinta jika musim kawin tiba, dan sedikit hibernasi jika sedang tidak berselera melakukan apa-apa. Sebuah pengingkaran seorang manusia atas kemanusiaannya. Sebuah kelalaian penggunaan akal budi dan logika.

Maka beruntunglah anak cucu saya. Karena di masa depan saat mereka menemukan buku otobiografi saya tersebut, mereka tidak akan kesulitan memahami isinya. Cukup membaca satu dua bab pertama, lalu melewatkan bab-bab berikutnya yang hanya bertuliskan kata “idem”.#

Jakarta, 10 Juli 2009
*ARUS Edisi V Juli 2009